This is only my point of view about...just read. You may contra or pro to this posting.(halah, ulu, kayak ada yang baca postingan kamu aja=D)
Juni-juli.
Masanya libur dan naik ke semester baru.
Saatnya para rektor rapat untuk menentukan biaya masuk , lalu orang-orang dari bagian administrasi menyiapkan kwitansi dan uang kembali, sedangkan para senior menggelar keset bertuliskan “WELCOME”, seraya menyusun acara penyambutan yang bakal menyisakan berjuta kenangan yang mereka beri nama : OSPEK.
Setelah beres berurusan dengan register ulang dan tidak lupa memberi sumbangan ‘wajib’ bernilai jutaan, siap-siap untuk yang satu ini: OSPEK (lupa singkatannya apa). Entah kini apa istilahnya, dulu semasa saya di SMP dan SMA kegiatan perploncoan ini namanya: MOS (Masa Orientasi Sekolah).
Tipikal indonesia. Senior-junior. Saat masa perploncoan, terjemahkan dua kata yang berjodoh ini dengan: penyiksaan. Fisik dan materi.
Suka dengan kegiatan seperti ini? Pasti banyak yang suka, walaupun misuh-misuh kesel disuruh bawa korek api cap 3 duren, untuk perempuan rambutnya mesti dikucir 3 dengan pita rambut berwarna ungu, yang laki-laki di wajib dipangkas plontos, pakai tas terigu selama masa perploncoan, bawa air selokan, dan datang pukul 6 pagi.
Katanya, efek dari MOS atau OSPEK inilah kita bisa kenal sama temen-temen satu angkatan, pertemanan semakin erat, kompak, dan yang pasti di kegiatan macam kayak gini senior bisa tebar pesona.
GAK SUKA.
Aku gak suka kegiatan plonco kayak gini. Kecuali masuk bangku kuliah dulu, perploncoan kayak gini cuma aku ikutin waktu smp dan sma. Soalnya wajib, kalo enggak sanksinya ‘berat’. Misalnya, dipanggil pembina osis lalu ditanya-tanya, orangtua dipanggil, dan siap-siap nyusun tegas seabrek lainnya. Mereka interogasi kita waktu jam pelajaran, jam istirahat, dan jam pulang. Sialan, kan?! Itu kan waktu kita belajar, istirahat, dan pulang. (cerita temen sma saya).
Kuliah. Aku bebas dari ospek. Meski yaah, aku ngerasa ditipu, soalnya waktu register ulang dulu, setelah beres bayar ini itu aku mesti ambil jaket almamater. Ternyata aku digiring ke satu ruangan. Mulai disentak-sentak. Disuruh push-up lah, nyanyi, diinterogasi...oh...meski aku keren, untung aku gak cantik meye-meye. Kan males disuruh ngerayu senior cowok. Mending ganteng...ini mah lebih jelek dari saya..ih...
Keluar ruangan, beres. Aku bebas. Ospek atau apalah namanya, lupakan. Ada yang bilang sanksinya, “kamu gak bakal diijinin sidang kalo gak ikut ospek”. You fuck. Aku bayar sekolah mahal-mahal bukan buat ikutan ospek lalu dapet sertifikat “SUDAH IKUTAN OSPEK” dan dilampirin sebagai berkas ijin ikutan sidang, tapi buat kuliah senin-jumat, kerjain tugas, lalu nyusun skripsi, sidang, dan lulus. Masa 4 kali ospek semasa menjadi junior di kampus gak aku ikutin, eh..ada sekali doang sih, acaranya keagamaan. Hehehe biasanya yang religius gini kan bebas dari yang ‘aneh’. Tapi ternyata boringnya minta ampuuuun...
Iya, iya. Masa orientasi akan memberi masa berjuta kenangan tak terlupakan. Sakit hatinya disentak-sentak, kerepotan nyari barang ‘aneh’, makan buru-buru, sholat grasa-grusu, kompakan sama temen, dan sejenisnya. Bener juga sih. But stil, aku gak perlu kenangan seperti itu.
Yang kayak gitu kreatif?
Maybe yes, maybe no. For me, it’s not.
Saya lebih suka acaranya kayak gini:
Senior memberi materi dan sharing pengalaman jadi mahasiswa kayak gimana.
Dosen yang galak mana. Dosen yang hebring mana
Dosen yang bisa diajak curhat mana
Dosen pebimbing itu artinya apa
Tips biar dapet A tanpa belajar mati-matian kayak gimana
Bisa dapet buku pinjaman diktat kuliah ke siapa
Cara masukin proposal skripsi kayak gimana
Beasiswa yang ditawarin apa aja jenisnya
Biar dapet beasiswa gimana caranya dam mesti ngehubungin siapa
Berbagi pengalaman di organisasi himpunan gimana
Gaul gaya anak mahasiswa gimana
Di luar kampus kegiatan yang bisa diikutin apa aja
Yang mau dapet kerjaan paruh waktu bisa didapet dimana
Kenapa mahasiswa suka demonstrasi
Gimana caranya ikutan demonstrasi
Materi2 diatas gak usah diberikan disatu ruang kelas dalam satu atau beberapa waktu, itu boring. Bentuk aja kelompok terdiri dari 10 mahasiswa baru yang di pandu 1 orang senior. Materi dikasi selama seminggu, sambil jalan-jalan keliling kampus. (kampus saya GEDE, jadi cocok buat jalan-jalan), tentuiin waktunya sendiri. Misal maunya pagi atau sore. Gak hanya di fakultas sendiri tapi juga sambil keliling ke fakultas lain biar tau lokasi aja. yaah, kalo seminggu kelamaan ya 3 hari aja. santai, dan ‘dapet’.
Damai ajalah. Gak usah yang ribet. Aku ngomong gini karena mungkin buat sebagian orang gampang aja ya beli tas terigu, rambut diiket 3 biji pake pita ijo, bawa chiki bledug..dll..tapi buat sebagian orang lainnya yang jumlahnya juga gak sedikit, itu artinya UANG. Uang yang mesti mereka keluarkan buat hal-hal yang mehe-mehe kayak gitu bisa berarti uang makan mereka buat 2 hari...
well, i dont know..it's just me.