Practise makes perfect.
Nobody’s perfect,
Dia perempuan yang pintar. Hafalannya kuat. Kuliah di dua universitas negeri dengan lokasi rumah sendiri yang jauh dari kota gak bikin dia males-malesan. Nilai kuliahnya sempurna. Sekarang dia udah sarjana hukum, 3 tahun 6 bulan, cumlaude dengan IPK 3.8. Plus sarjana Sastra dengan IPK 3.6 –sigh--
Dengan dua gelar yang disandangnya, Sarjana Sastra&Sarjana Hukum orangtuanya malah maksain dia: kawin. Oooh...what a waste!! Gak ada yang salah dengan keputusan : udah-sekolah-tinggi2-tapi ujung2nya-kawin kalo keputusan itu datang dari dianya sendiri. Tapi ini, orang tuanya maksain...saya tau sendiri berapa jam yang dia habisin di angkot waktu dia berangkat dan pulang kuliah. saya juga ngeliat betapa dia sibuk&kerepotan ngurus jadwal di kampus A dan di kampus B. Belum lagi tugas-tugas kuliah yang bejibun. dengan IPK yang dia dapet sekarang, gak usah ditanya lagi kayak apa usahanya 4-5 tahun itu. Gelo lah. Karenanya, khusus kasus temanku ini, masa sekolah cape-cape ujung-ujungnya cuma nikah dan jadi ibu rumah tangga???
Gusti ya Allah, saya gak maksud bilang nikah itu jelek. nikah itu ibadah, nikah itu berkah. yes i know. ini beda. Teman saya ini punya cita-cita. Bahwa dia ingin bekerja ditempat bergengsi dengan ‘upah’ setengah gaji anggota DPR pusat. Temanku itu punya semua modal yang bakal bikin dia sukses di karir dan mandiri secara finansial. Dia pintar dan sistematis. Rajin dan disiplin. Tipikal orang kantoran yang gajinya bisa sampe double digit! Dan cita-citanya mulai kabur saat orangtuanya gak mendukung keinginannya untuk kerja.
Temanku itu juga gak mau dikawinin, sama orang pilihan orangtuanya pula yang menurutnya (dan juga menurutku, GAK banget). Temanku itu maunya kerja dulu, tapi tau apa kata ibunya “perempuan mah udah nikah aja, ngapain kerja segala!”. Kata temenku yang lain, ibunya sengaja ngejodohin sama pilihannya karena alesan tertentu. Diantaranya adalah : materi.
Owh...apa yang dipikirin ibunya sih. Kalo dia pikir ngawinin anaknya dengan orang itu atas nama uang, dia salah besar. Anaknya bisa menghasilkan lebih banyak dan jalannya juga lebih bermartabat, bisa ngangkat derajat keluarga. Why oh why...
Seandainya, keinginan menikah itu datang dari dia sendiri, saya bakal ikut senang. Saya gak ngeliat 2 gelar sarjananya jadi sia-sia karena dia memutuskan untuk menikah. Itu pilihannya. Tapi kalau dipaksain kayak gini, jahat sekali. Kalau hidup ini kita sendiri yang ngejalaninnya maka kita sendiri juga yang merasakannya, terus kenapa mesti orang lain yang nentuin hidup kita seharusnya seperti apa...
Kasian temanku...semoga dikasi jalan untuk ini semua.
Practise makes perfect.
Nobody’s perfect,
Thus, i’m perfect
-sigh-