ulu's posts with tag: kaki merapi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kaki merapi
Blog Entrydi kaki merapiOct 30, '07 9:58 PM
for everyone

Dilanjutin ah ceritanya,

Jam ½ 9 pagi, lagi asik-asik ngupas wortel di depan tivi, ceritanya mau bikin jus wortel=D
Yudi: (baru bangun tidur) loh, teh, kok yudi gak dibangunin sih. Kan mau ke atas
Saya: gak enak, ah. Gapapa.
Yudi: tapi udah mandi kan. Yudi mandi dulu ya, padahal kalo pagi-pagi banget merapinya keliatan loh, teh
Saya: gagapa, beneran gapapa (hiks..)

Heu…mau gimana lagi, gak enak bangunin dia. Malamnya yudi janji mo ajakin jalan-jalan ke kaki merapi, ke bunker tempat 2 volunter meninggal karena wedus gembel. Rencananya memang mau berangkat jam 6 atau jam 7 pagi.

Dengan Megapronya, saya dengan gagah memboncengi yudi. Rutenya gak jauh-jauh amat, soalnya rumah dia (tempat saya tinggal selama di jokja) masih di kaliurang juga, tinggal ambil jalan potong. Nyampe.

Lava Tour. Merapi
Sekitar 20menit perjalanan dari rumah, kami sampai di loket lava tour merapi. Murah, Rp 2000/orang. Lalu motor dipacu kembali, naik terus sampai sekitar 10 menitan. Parkir motor. Dan…”silakan..” kata yudi.

Merapi yang aktif dan sering muntah-muntah, apalagi tahun 2006 kemarin, menewaskan 2 orang dan meluluhlantakan daerah ini. Yudi yang pernah mengunjungi tempat ini sebelum akhirnya rata dengan debu-debu dan lava yang sudah membatu itu lancar ngejelasin before and after situasi&kondisi tempat itu. yg kanan before yang kiri aftermathnya. “dulunya itu pendopo kecil, teh. Nah yang ini nih jalannya. Disana tuh, kesana yuk…” sesampainya kami ditempat yang dia maksud “nah, sekarang kita lagi berdiri diatas rumah loh. Dulu sih lebih parah dari ini, teh. Bunkernya aja ketutup, ketimbun debu merapi”. aneh ya, waktu baca beritanya di koran rasanya biasa aja, cuma bisa ikut prihatin. tapi berada di lokasinya langsung rasanya ikutan takut, kebayang tapi gak mau ngebayangin.

so, Yudi terus menerus cerita tentang apa yang dia tahu dan dia lihat. Sayang puncak Merapi jam ½ 10 pagi ternyata terhalang kabut&awan. Jadinya gak keliatan. ‘kalo tadi berangkatnya agak pagi pasti keliatah jelas tuh merapinya’, yudi masih sibuk menyesali kedatangan kami yang menurutnya kesiangan. ‘heugh...udah..udah...gapapa. ntar mah teh ulu naek ke merapinya kok, Yud’, hehehe u wish...ucapanmu doamu toh ? semoga someday saya bisa jalan-jalan naik ke merapi. Minggu depan, bulan depan, tahun depan, 3 tahun lagi...

Pemandangan gak hanya dari tanah yang kami pijak, atau pohon-pohon hijau, kabut, serta batu-batu sisa lava yang kami lihat. Tapi juga pemandangan ibu-ibu (mostly manula) yang ngegendong semilyar rumput hijau di punggungnya. Kata yudi, mereka ambil rumput-rumput itu di hutan, di merapi sana. ‘Buat kasi makan kerbau-kerbaunya tuh’ kata yudi lagi. Waduh...ini mungkin yang dimaksud Perempuan-Perempuan Perkasa ya,  puisi yang dibuat sama Hartoyo Nadang Jaya itu.

........
mereka ialah ibu-ibu berhati baja,
perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa


Mampir
Seharusnya kami langsung pulang, tapi Yudi belok ke kanan. Katanya mau ngeliatin sesuatu. Saya sih, hayuk sajah.

Gak tau apa nama tempatnya, yang jelas kami menyusuri jalan menanjak berbatu-batu kecil yang tentu saja ganggu. Saya takut banget ban motor bocor gara-gara ‘kesuntik ‘ sama ujung-ujung batu yang runcing. Tapi enggak=) kiri kanan kami kalo gak pohon-pohon ya rumah-rumah penduduk. Banyak diantaranya yang dibangun dengan fondasi batu karang/gunung bukannya batu bata yang umumnya kita pake. Yudi bilang sih, fondasi kayak gitu justru lebih kuat.

Kami disambut satu jalan masuk yang kecil. Mobil gak bisa masuk. lebar jalannya seukuran dua motor lah. Ada jembatan kecil yang bikin ngerinding pas saya lewatin. Sebenernya biasa aja sih, tapi lagi pengen ngerinding aja, biar seru. hehehe=D Yah, singkat cerita kami sampe di bendungan gak jadi dengan sungai kecil didataran yang gak atasnya. Wow…ini menyenangkan. Saya langsung gulung celana&nyemplung ke dalemnya. Wuih…rasanya kayak pijet refleksi. Banyak batu-batu didalemnya sih. Airnya juga seger, rek. Sempet jatuh gara-gara salah pijakan, ada pasir ditengah-tengah dan dalem..hiii. tapi gak ngaruh. Ada air terjun super mini juga. Yah puas-puasin deh. Gak hanya kami berdua yang ada disitu. Ada 3 orang yang sibuk nguruk tanah untuk diambil pasirnya dan kemudian mungkin mereka jual nantinya.  Pantes tadi saya kejeblos agak dalem, wong diuruk kayak gitu=(

Setengah jam melongo disitu udah cukup bikin refreshed. Viewnya, meski gak indah-indah banget, lebih dari cukup buat cuci mata&ngebersihin paru-paru. Darisitu kami pulang.

Sesampainya di rumah, Yudi berkata “teh, ntar siang ke laut ya” and I was like “hah? Sip sip! Oke, yud!”

Asik…ke pantai….

*fotonya belum tak edit ey, nyusul ajalah


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help