ini juga ditulis karena web gegep tea..
yuuk
Apa yang terlintas dalam pikiran anda saat mendengar kata Cimol: Cibadak Mall atau kah Cibadak Moal Lapar?
Cibadak adalah salah satu nama jalan di pusat kota Bandung. Bahwa dulu Cimol merupakan akronim dari Cibadak Mall itu benar adanya, kini Cimol bukan lagi lokasi dimana setiap harinya beragam jenis pakaian second dan impor dijual dengan harga miring. Cimol yang sekarang, memang sama-sama menjual tetapi bukan pakaian melainkan makanan dan minuman. Penjualnya pun asli warga setempat, karenanya dinamakan Cibadak Moal Lapar, maksudnya baik penjual maupun pembeli tidak akan kelaparan. Cimol ini hanya diadakan sebanyak dua kali seminggu, yakni setiap Sabtu dan Minggu Malam. Kalau dulu pedagang Cibadak Mall yang kebanyakan orang 'seberang' berjualan dari pagi hingga sore, maka Cimol yang sekarang digelar sejak matahari terbenam sampai larut malam.
Ketika sore datang dan malam pun menjelang; anak-anak tertawa dan bercanda, muda mudi bercengkrama, dan para orang tua saling bertegur sapa. Kedua ruas jalan Cibadak dipenuhi oleh para warga yang segera menyulap jalanan yang tadinya berupa parkiran kendaraan dengan Jampana dan trotoar yang awalnya lengang dengan Lesehan. Lampu-lampu dinyalakan, kompor dipanaskan, dan wangi makanan pun mengundang. Tepat sesudah magrib, Cimol mulai ramai akan pengunjung. Cimol yang berada di dekat perempatan Cibadak, tepatnya sekitaran Gedung Muslimin, menawarkan segala jenis makanan dan minuman yang tidak hanya menggugah selera. Suasana sederhana, ramah, akrab, hangat, dan kekeluargaan dari tiap warga membuat para pengunjung betah dan tidak mau cepat-cepat melewatkan malamnya begitu saja. Bandung malam yang seharusnya berselimutkan dingin malah terasa begitu hangat. Lebih dari itu, nuansa tradisional yang kental dengan sedikit sentuhan modern membuat Cimol berbeda dengan tempat lainnya.
Cimol tidak menggunakan tenda atau karpal sebagai stannya layaknya PKL di tempat lain. Akan tetapi mereka menggunakan stan yang dinamakan Jampana. Bentuknya mirip Saung tapi yang ini ukurannya tidak terlalu besar, terbuat dari bambu, kayu atau Lampit, dan atapnya dinamakan Ateup, terdiri dari ratusan bulir padi yang sudah mengering. Dalam tradisi Sunda dulu, Jampana biasa digunakan untuk seserahan atau arak-arakan. Di Cimol setiap Jampana dilengkapi dengan lesehan yang nyaman. Asik sekali, duduk bersandar atau bersila sambil mengobrol dengan pengunjung yang lain. Nikmatnya sajian yang disantap sambil diiringi lagu Sunda, mana lagi selain di Cimol. Memang tidak semua Jampana memutar lagu Sunda, hanya beberapa saja, mengingat jika semua Jampana memasang musik pasti akan membuat suasana terlalu berisik seperti halnya di Dago. Cimol memanjakan anda dengan 160 jenis pilihan makanan lengkap dengan kue basah dan kering serta minuman di 70 Jampana yang tersedia. Tidak hanya makanan khas Bandung seperti Mi Kocok, Urab Sampeu, Pecel Lele, Timbel, Ongol-Ongol, Gorengan, Awug, dan lain-lain, makanan dari daerah lain pun tersedia. Tekwan dan Pempek dari Palembang, Nasi Begana dari Semarang, Tahu gejrot dari Cirebon bahkan dari luar negeri pun ada: Hotdog, Burger, dan Steak. Untuk minumannya tersedia Bajigur, Lemon tea, Susu Murni, es buah, es Sarang Burung, es krim, Bubble Tea, es Cendol, dan masih banyak lagi.
Harga yang ditawarkan cukup bervariasi dan pastinya murah meriah mengingat target pembeli adalah kalangan menengah ke bawah alias rakyat jelata, walaupun pada kenyataannya yang datang ke Cimol justru dari semua kalangan. Dengan Rp 10.000, tiga macam makanan ringan atau minuman dapat dibeli. Warga senang, perut kenyang, dan semua pun tersenyum riang. Berkumpul dan mengakrabkan diri bersama keluarga, teman, dan pasangan, Cibadak tempatnya.
Januari 2005 adalah awal kali Cimol diselenggarakan. Pada mulanya warga setempat hanya berniat mengisi acara Tahun Baru dengan menggelar acara bertema "Nyaliksik Lembur Sorangan" dengan menampilkan kebudayaan Sunda. Karena animo masyarakat dan pengunjung yang tinggi, keberadaan Cimol ini terus dipertahankan. Penggagas sekaligus koordinator Cimol, Ceppy Setiawan, mengatakan bahwa tujuan diadakannya Cimol adalah untuk memberdayakan masyarakat setempat, utamanya warga miskin perkotaan dan melestarikan budaya Sunda. Untuk malam Sabtu, pendapatan total yang diperoleh warga adalah 22-23 juta rupiah, berarti kira-kira Rp 300.000 perkepala. Malam berikutnya juga tidak jauh berbeda, "hanya beda 25 % lah" ujar Pak Ceppy. "Dari situ, tingkat kesejahteraan dan pengenalan budaya Sunda warga sekitar meningkat ke arah yang lebih baik", katanya lagi. Dengan demikian selain warga setempat, orang luar dilarang untuk berjualan di Cimol, sebaiknya titip saja apa yang ingin dijual. "Saya juga menolak investor yang minat sama Cimol ini, nanti tujuannya malah 'belok' ".
Anyway, karenanya tidak melulu makanan dan minuman, kesenian Sunda pun digelar, contohnya Longser. Selama hampir lima bulan Cimol berlangsung, Longser baru dipertunjukkan sebanyak dua kali, yaitu tanggal 30 April dan 22 Mei lalu. Longser yang pertama diadakan oleh DISBUDPAR dan BPLHU Propinsi Jawa Barat, dengar-dengar sih dalam rangka memperingati hari Bumi. Sedangkan yang kedua oleh Caraka dan warga Cibadak sendiri. Untuk kedepannya, kesenian-kesenian Sunda yang lain juga akan akan ditampilkan, seperti Rereogan, Angklungan, Wayang Golek, Degung, dan lain-lain. Belakangan budaya Sunda yang disajikan menarik pihak Dinas Budaya dan Pariwisata kota Bandung untuk menjadikan Cimol sebagai tempat tujuan pariwisata di Bandung. Hebat, bukan? Meningkatkan perekonomian warga kota sekaligus menjaga dan melestarikan kebudayaan sendiri. Pak Ceppy yang dulunya merupakan ketua RW setempat mengatakan, "kita akan launching untuk benar-benar meresmikan Cimol ini, dan nanti pada saat launching dan seterusnya semua penjual akan mengenakan pakaian khas Sunda, pasti. Saat ditanya kapan tepatnya launching tersebut, beliau menjawab, "dalam waktu dekat ini. Kita mah tinggal nunggu kapan Pak Walikota ada waktu untuk datang dan ngeresmiin tempat ini, kalaupun Pak dada tidak bisa yah pejabat Bandung lainnya juga tidak apa-apa". Selain itu pria paruh baya yang juga bekerja di PT. Telkom ini ingin menjadikan Cimol sebagai Pasar Malam 24 jam, "daripada keluyuran teu bener, mending kesinh ajah, kita ngobrol, diskusi, nonton kesenian sambil lesehan kayak gini, kan enak. Saya juga pengen bikin layar tancep biar kalo Persib atau pertandingan sepakbola main, kita tonton bareng-bareng" ungkap pria berjanggut itu dengan penuh semangat.
Umumnya, acara-acara publik seperti ini akan menyisakan sampah dimana-mana dan macet yang tiada akhirnya, contohnya saja Dago dan Gasibu. Cimol berbeda, rute Jalan Cibadak yang satu ini memang nampaknya jarang dilalui banyak angkot dan kendaraan pribadi. Selain itu, setiap Jampana dilengkapi dengan tempat sampah dan saat acara usai para penduduk yang berjualan maupun yang hanya nongkrong-nongkrong saja, gotong royong membersihkan ruas jalan dari sampah. Bersih. Unik, 'kan? Warga kelurahan Cibadak memang terkenal dengan keunikannya. Saat pemilu tahun lalu berlangsung, hanya warga Cibadaklah yang satu-satunya di Bandung dan bisa jadi di Indonesia, mencoblos suara dengan mengenakan pakaian tradisional Sunda. Saking kreatifnya 'ulah' warga Cibadak, beberapa RW/RT dari kelurahan lain di Bandung pernah melakukan studi banding, bahkan yang dari Cianjur sekalipun. Berminat studi banding ke Cibadak?
Suasana kampung di tengah kota, mana lagi selain di Bandung. Bukan hanya urusan perut yang terpuaskan. Di Cimol kita bisa melihat kenyataan bahwa ternyata indahnya kebersamaan, kekompakan, keramahan, dan kemauan untuk mengenal budaya sendiri masih dimiliki oleh warga kota yang selama ini pudar. Malam minggu tidak bisa, malam Senin pun jadi. Bagaimana, kemana anda akan pergi malam minggu ini?
foto ada pada gegep...hiks...