ulu's posts with tag: gunung padang

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag gunung padang
Blog Entryminggu kemarin di gunung PadangJan 11, '08 3:09 AM
for everyone

Gunung Padang.
Bukan di Padang, Sumatera Barat.
Bukan juga gunung yang tingginya beribu meter.

Yang ini, terletak di kabupaten Cianjur, dekat Sukabumi.  Standarnya 3-4 jam adalah waktu yang ditempuh menuju Gunung Padang. Dan konon kabarnya, 40 ribu adalah ongkos ojek yang mesti kita rogoh dari kantong/dompet untuk sampai tepat di gerbang menuju gunung Padang. Benarkah?

Enggak.

Saya, cindy, rina, Dimas, dan Ilham ditemani oleh anak PA Jantera UPI bdg, Gelar & ucan bertolak pukul 7 pagi dari Bandung menuju Cianjur untuk ngeliat tempat itu :

 Gunung Padang

Emang ada apa di gunung Padang? ada situs Megalitikum. Menurut beberapa artikel yang saya baca, situs ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di asia (tenggara) dan merupakan bagian dari jalur kebudayaan masyarakat megalitik di asia pasifik. Yeah...batu-batu lumayan besar disana yang jumlahnya ribuan itu ditengarai sebagai situs peninggalan jaman megalitikum. Terletak di kabupaten Cianjur, desa Karyamukti.

Maap kepada yang mendadak saya ajak ikutan jalan-jalan ini (dan pada akhirnya greget karena gak bisa ikutan, ngedadak. Imgar? Hehehe=D)

So, untuk rute, sebaiknya bawa kendaraan pribadi karena jalan masuk ke g.padang yang sekitar 25 km jauhnya itu gak ada fasilitas transportasi umum menuju kesana. Ada fasilitas ojek yang sayangnya gak punya tarif yang standar. Kata Cindy, bayarnya nyampe 40ribu. Kata Ilham 30 ribu. Kata abah dadi (kuncen g. Padang) 25 ribu. Mana yang bener coba? Tapi saran saya sih, ambil tarif yang paling mahal itu –buat patokan aja-, terus tawar=D itu harga pagi-siang. Kalo sore bisa berubah makin tinggi, apalagi malam.

Nah, berhubung ada mobilnya Ilham, jadi Alhamdulilah bisa ngirit. Dari Bandung naek bis ke arah sukabumi, naek yang Sangkuriang AC. Bayar 13. 000

Turun di Cikidang dan nunggu Ilham. Ilham, temenku buruh kapitalis Bandung  yang sedang liburan di kampungnya Sukabumi, ngejemput kami di Cikidang. Dari situ kami terus meluncur ke kabupaten Cianjur.

Tadinya takut trek ke g. Padang agak berat untuk dilalui mobil, tapi ternyata enggak. Sip deh. Lebar jalannya cukup untuk 2 mobil, sepanjang perjalanan itu belokan melulu yang untungnya gak tajam2 amat. Mobil yang lewat juga jarang, paling mobil pick-up yang bawa properti hasil perkebunan penduduk. Oiya, viewnya bagus. Hijau gak putus-putus. Kalo cerah, langit biru awan putih juga bisa bikin kita senyum-senyum sendiri. Hehehe . kalo kemarin sekitar 20-23 km pake mobil, sisanya jalan kaki.

Sampe g. Padang jam 10.25

Tadinya mau langsung naik, tapi Ucan bilang mesti ijin dulu sama kuncennya. Jadi kita nunggu sekitar 20-30 menit sebelum naik. Ada 8 pengelola situs g.padang dan abah adalah salah satu yang paling populer.

Pak Dadi-kami panggil aja abah, yg pake baju putih-yang sudah jadi kuncen situs g.padang selama 12 tahun itu gak tua-tua amat. Orangnya asik, ilmiah dan jauh dari kesan mistis. Kuncen yang ini: logis. Katanya banyak yang datang gak hanya untuk lihat-lihat atau obeservasi, tapi juga untuk bersemedi, doa minta sesuatu, dan kegiatan sejenisnya. Kami salut sama kuncennya nih, abah, bapak berumur 48 tahun ini ‘straight’. Waktu kami lagi ngeliling kedengeran suara ketawa, si kuncen yang lain ngomong itu kunti. Abah buru-buru meralat, “iya itu teh kunti. Pan kalo di sunda mah, kun artinya ada, ti artinya awewe (perempuan) jadi kunti artinya ada awewe. Da emang di bawah sana ada orang, bukan apa-apa tapi orang beneran lagi ngobrol”.

Terus waktu lagi liatin batu, abah nyeletuk “nih, upami bisa angkat batu ini katanya bakal kaya”. Kami mulai ngomong dalam hati “gak mungkin lah...”, lalu si abah seperti mendengar suara hati kami dan menyambung omongannya sendiri “iya kan bisa ikut olimpiade kalo bisa angkat batu ini, kayak angkat besi kitu, engke pan menang, kalo menang dapet duit, bisa kaya itu teh”......yeah, rite.

Di jalan masuk ke atas, ada mata air yang kata abah, gak pernah kering. Jadi menurut cerita abah, orang-orang dulu sambil membangun tempat pemujaan tersebut juga mencari mata air. “Mata air Kahuripan” namanya. Jadi menuju situsnya itu kami mesti naik tangga berbatu yang kata Abah, jumlahnya 336 sepanjang 180 meter keatas. ini agak aneh, karena dari literatur yang pernah saya baca, katanya jumlah tangga-tangga itu 468 sepanjang 100 meter aja. hmmm...bukan tangga biasa, ini mah tangga dari batu-batu yang gak beraturan. Yang kayaknya hampir tegak 90 derajat. Ih, berasa manjat tebing. Tapi enggak ketang.

10-15 menit kemudian sampai di atas. Fiuuuh....ngos-ngosan=D

dan wow...banyak batu-batu panjang bentuk sisi lima dan sisi empat berserakan dimana-mana. Ada beberapa yang berdiri membentuk dua gapura mini setinggi pinggang saya. Kayak pintu masuk. Itu baru undakan pertama karena ada 5 tahap undakan disini. Tahap Kasenian, Kadunyaan, Katapakan, Kadugalan, dan kangkatan. Kalo disambung-sambungin, kata Rina, filosofisnya 5 tahap undakan itu sama kayak 5 kebutuhan manusia. Kebutuhan ekonomi, sosial, spiritual, dan 2 lagi saya lupa=(

Semua batu-batu pemujaan ini diduga kuat menghadap ke arah gunung Gede Pangrango, karena konon pada masanya, suatu dataran yang menjulang tinggi –paling tinggi- adalah tempat mereka memuja-muja layaknya kita sekarang memuja-muja Tuhan kita sendiri. Kalau dipukul2 dengan batu lagi, beberapa batu itu bisa mengeluarkan suara nyaring layaknya gamelan, namanya batu gamelan. ada pula satu batu yang bertapak. Abah bilang itu tapak harimau.

Dan kalo kata pak Bahtiar, ahli geologi kita: Gunung Padang terbentuk karena ada magma yang menekan dan menerobos hingga ke permukaan. Magma yang kemudian mengering membentuk kekar kolom (columnar jointing) yang berupa balok-balok batuan andesit yang kuat. Secara alami memang bukit ini terbentuk karena adanya intrusi/terobosan magma. Di kawasan ini bukan hanya Gunung Padang yang berupa gunung api intrusif, tapi juga di perbukitan sekitarnya. Dari kejauhan terlihat singkapan di Pasir Pogor yang sedang digali dengan mesin berat, memperlihatkan batuan yang berbentuk kekar meniang. Demikian juga yang terdapat di sebalah barat Gunung Padang. Jadi, terdapat beberapa bukit yang secara alami menyediakan bahan baku yang sama, namun pasti ada alasan kuat bagi para pendukung budaya megalitik itu untuk memilih Gunung Padang sebagai tempat pemujaan.

Pada  mulanya kawasan ini berupa lautan, kemudian terangkat menjadi daratan yang luas antara 25,2 – 5,2 juta tahun yang lalu. Kulit bumi yang dinamis, penuh dengan gerakan-gerakan yang menekan searah dengan datangnya tekanan atau gerakan menyamping, maka di kawasan ini terbentuk patahan-patahan yang sangat mudah diterobos magma. Antara 5,2 – 3,5 juta tahun yang lalu, magma itu menerobos kerak bumi membentuk gunung api intrusif di sana.

Batuan terobosan yang berbentuk kekar meniang inilah yang oleh para pendukung budaya megalitik dijadikan tempat untuk mengadakan pemujaan. Kalau melihat wujud bangunan berundak yang sangat besar, pastilah bangunan berundak ini dijadikan pusat kegiatan religi dalam konstelasi masyarakat megalitik yang lebih luas.

Bangunan berundak yang dibentuk dan dibatasi dengan batuan andesit yang secara alami lahir di gunung ini, memanjang bertingkat-tingkat. Perlu segera membuat hipotesis susunan batuan di sana, karena saat ini banyak batuan yang sudah berpindah tempat, sesuai kebutuhan manusia yang melanjutkan tradisi megalitik itu saat ini.

 
Kenyang liat-liat, foto-foto, dan denger cerita abah, kami putusin untuk pulang. Karena dipaksa, jadi mampir deh rumah Ilham di Sukabumi. Jam ½ 6 pulang ke Bandung lagi. Menyenangkan.

 Jadi, kapan kita jalan lagi, hey?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help