kemarin agustusan saya gak ngapa-ngapain. cuma ngetik & ngeliatin temen yang ikut ngeprint yang tinggal nunggu sidang=(.gak kayak saya yang masih bimbingan. heugh..
ah pokoke lagi seneng. Bukan seneng yang bikin girang. Ini seneng yang bikin lega. Aku jadi seperti orang kedinginan, hingga seseorang datang menyuguhiku segelas susu coklat hangat. Lega.
Lega karena akhirnya saya bisa ngerasain sesuatu yang hangat cair mengalir di pipi.
Semalam nonton film ini: GIE
Padahal saya udah pernah nonton. Tapi kenapa semalam baru kerasa segala-galanya. Mungkin karena nontonnya sendiri, malam, lampu dimatiin. Semuanya lebih sendu, syahdu, dan sedih.
Semua bagian filmnya bagus, satu kesatuan yang akhirnya bawa Gie ke akhir cerita yang klimaks. Jadi kerasa, Gie yang ingin memberi cinta tapi gak sempat karena mati muda. Di adegan terakhir itu, waktu dia diteror, diputusin sama pacarnya, dan si Han teman kecilnya yang mati dan Gie gak ada teman ngobrol. Kasian. Dia ambil buku dan nulis, katanya dia ingin memberi cinta. Gitu.
Kasian. Untuk semua yang udah dia alami, dia butuh seseorang untuk bicara kali ya. Tapi waktu datang dan mau ketemu Ira, dia malah disuruh pulang secara halus tapi kasar sama ibunya. “iranya sedang istirahat, gak bisa diganggu”. Kasian.
Gie sedang kecapean, katanya gitu. “untuk menulis pun aku cape luar biasa”. Saya gak semata-mata liat Gie yang berbadan kerempeng kayak orang gak keurus, tapi lebih karena dia kayak orang yang...kehilangan. sedang mencari sesuatu. Segala yang dialaminya sejak awal bikin dia ke titik ini: cape. Cape hati.
Waktu kita, saya, kamu, kalian, lagi cape, cape hati, cape batin, apa dan siapa yang kamu cari,
Tuhan?
Teman?
ibu?
Bapak?
atau pada alam?
Kasian Gie. Hanya pada alam dia bisa berbagi perasaan cintanya. Bener kata eros di soundtracknya Gie, “berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya...”
Tapi saya lebih suka kata-katanya Gie, “kita tak mengharapkan apa-apa. Kita tak kehilangan apa-apa”.
haduh naha atuuh...
