 Inginnya menyeruput secangkir kopi, tapi...
Punya maag? Belum sarapan? Atau menderita migrain? Takut berat badan naik? sakit jantung? Dan darah tinggi?
Coba yang ini. Kopi aroma. Bukan kafe dan bukan warung kopi. Kopi aroma adalah satu merk kopi lokal yang berlokasi di sekitaran daerah Pecinan di Bandung. Pabrik sekaligus Toko yang menjual kopi ini berdiri sejak tahun 1930. Sang pemilik bernama Widyapratama, yang mewarisi toko dan pabrik ini dari ayahnya sendiri, Houw Sian. Termasuk dalam daftar toko dan pabrik kopi tertua di indonesia, Kopi Aroma masih mempertahankan cara pengolahan kopi yang tradisional.
Bukan kopi biasa (baca: instan) menjadikan kopi produksi pak Widya ini aman dari efek samping. Biji kopi didatangkan dari Aceh, Lampung, Jawa, hingga Toraja. Ada dua jenis kopi yang dijual: Arabica dan Robusta. Untuk mengurangi kadar kafein, biji kopi ini disimpan selama 5 tahun untuk Arabica dan 8 tahun untuk Robusta. Proses pengeringannya pun masih memanfaatkan sinar matahari, sedangkan pada saat di hancurkan, mesin penggiling kopi yang dipakai masih menggunakan tenaga panas dari kayu bakar sehingga nantinya akan memberikan aroma yang khas pada bubuk kopi.
Harga kopinya sendiri cocok dan aman. Robusta dijual Rp. 3000/ons dan Arabica Rp. 4400/ons. Oiya, kadar kepahitan Arabica yang lebih rendah daripada Robusta dapat membuat kita lebih rileks, makanya Pak Widya berpesan “drink it when you fell happy”. Sedangkan kalau ingin memacu semangat dan gairah kerja, Robusta lebih cocok. Tugas kuliah yang tak kunjung selesai, deadline kerjaan yang menumpuk...beres!
Shubuh pukul 4 pagi. Pak Widya memanaskan mesin kopi dan dilanjutkan dengan memeriksa hasil tugas anak-anak mahasiswanya. Pak Widya ini bukan hanya ahli di bidang kopi, tapi juga di bidang ekonomi. Karenanya beliau juga mengajar di berbagai institusi swasta dan negeri seperti Unpad dan STIEB. Senin-sabtu toko dibuka pukul 8 pagi dan tutup pukul 3 sore. Khusus minggu, toko tutup.
Coba mampir ke toko ini. Selain penghuni toko yang unik dan cukup kuno, maksudnya mesin kopi, stapler, lemari, mesin uang, dll, coba deh untuk ngobrol-ngobrol sama Pak Widya. Saat pak Widyanya sendiri ada ditempat, jangan segan-segan untuk minta ijin melihat pabriknya. Boleh, kok. Beliau senang bercerita tentang kopinya, tentang pabriknya, tentang perjuangan ayahnya, tentang Bandung, tentang pendidikan...banyak.
Menurut pak Widya, untuk menikmati kesempurnaan kopi, masing-masing orang memiliki cara yang berbeda, “bagaimana seleranya saja”, katanya. Hanya sebaiknya jangan menggunakan gelas biasa, tapi Mug. Ketebalan gelas akan berpengaruh pada aroma dan rasa. Masukan dulu kopinya, baru air panas. Tidak suka kopi pahit, silakan tambahkan gula. Asal, jangan lupa, gula dapat mengurangi panasnya kopi loh.
Kalo sempet, mampir ke toko ini gak ada salahnya. Inget, minggu toko tutup. Di jl. Banceuy 51, deket alun-alun bandung, deket Braga, dan deket pasar baru. Sip!
     | cimol | May 27, '07 10:28 PM for everyone |
ini juga ditulis karena web gegep tea..
yuuk
Apa yang terlintas dalam pikiran anda saat mendengar kata Cimol: Cibadak Mall atau kah Cibadak Moal Lapar?
Cibadak adalah salah satu nama jalan di pusat kota Bandung. Bahwa dulu Cimol merupakan akronim dari Cibadak Mall itu benar adanya, kini Cimol bukan lagi lokasi dimana setiap harinya beragam jenis pakaian second dan impor dijual dengan harga miring. Cimol yang sekarang, memang sama-sama menjual tetapi bukan pakaian melainkan makanan dan minuman. Penjualnya pun asli warga setempat, karenanya dinamakan Cibadak Moal Lapar, maksudnya baik penjual maupun pembeli tidak akan kelaparan. Cimol ini hanya diadakan sebanyak dua kali seminggu, yakni setiap Sabtu dan Minggu Malam. Kalau dulu pedagang Cibadak Mall yang kebanyakan orang 'seberang' berjualan dari pagi hingga sore, maka Cimol yang sekarang digelar sejak matahari terbenam sampai larut malam.
Ketika sore datang dan malam pun menjelang; anak-anak tertawa dan bercanda, muda mudi bercengkrama, dan para orang tua saling bertegur sapa. Kedua ruas jalan Cibadak dipenuhi oleh para warga yang segera menyulap jalanan yang tadinya berupa parkiran kendaraan dengan Jampana dan trotoar yang awalnya lengang dengan Lesehan. Lampu-lampu dinyalakan, kompor dipanaskan, dan wangi makanan pun mengundang. Tepat sesudah magrib, Cimol mulai ramai akan pengunjung. Cimol yang berada di dekat perempatan Cibadak, tepatnya sekitaran Gedung Muslimin, menawarkan segala jenis makanan dan minuman yang tidak hanya menggugah selera. Suasana sederhana, ramah, akrab, hangat, dan kekeluargaan dari tiap warga membuat para pengunjung betah dan tidak mau cepat-cepat melewatkan malamnya begitu saja. Bandung malam yang seharusnya berselimutkan dingin malah terasa begitu hangat. Lebih dari itu, nuansa tradisional yang kental dengan sedikit sentuhan modern membuat Cimol berbeda dengan tempat lainnya.
Cimol tidak menggunakan tenda atau karpal sebagai stannya layaknya PKL di tempat lain. Akan tetapi mereka menggunakan stan yang dinamakan Jampana. Bentuknya mirip Saung tapi yang ini ukurannya tidak terlalu besar, terbuat dari bambu, kayu atau Lampit, dan atapnya dinamakan Ateup, terdiri dari ratusan bulir padi yang sudah mengering. Dalam tradisi Sunda dulu, Jampana biasa digunakan untuk seserahan atau arak-arakan. Di Cimol setiap Jampana dilengkapi dengan lesehan yang nyaman. Asik sekali, duduk bersandar atau bersila sambil mengobrol dengan pengunjung yang lain. Nikmatnya sajian yang disantap sambil diiringi lagu Sunda, mana lagi selain di Cimol. Memang tidak semua Jampana memutar lagu Sunda, hanya beberapa saja, mengingat jika semua Jampana memasang musik pasti akan membuat suasana terlalu berisik seperti halnya di Dago. Cimol memanjakan anda dengan 160 jenis pilihan makanan lengkap dengan kue basah dan kering serta minuman di 70 Jampana yang tersedia. Tidak hanya makanan khas Bandung seperti Mi Kocok, Urab Sampeu, Pecel Lele, Timbel, Ongol-Ongol, Gorengan, Awug, dan lain-lain, makanan dari daerah lain pun tersedia. Tekwan dan Pempek dari Palembang, Nasi Begana dari Semarang, Tahu gejrot dari Cirebon bahkan dari luar negeri pun ada: Hotdog, Burger, dan Steak. Untuk minumannya tersedia Bajigur, Lemon tea, Susu Murni, es buah, es Sarang Burung, es krim, Bubble Tea, es Cendol, dan masih banyak lagi.
Harga yang ditawarkan cukup bervariasi dan pastinya murah meriah mengingat target pembeli adalah kalangan menengah ke bawah alias rakyat jelata, walaupun pada kenyataannya yang datang ke Cimol justru dari semua kalangan. Dengan Rp 10.000, tiga macam makanan ringan atau minuman dapat dibeli. Warga senang, perut kenyang, dan semua pun tersenyum riang. Berkumpul dan mengakrabkan diri bersama keluarga, teman, dan pasangan, Cibadak tempatnya.
Januari 2005 adalah awal kali Cimol diselenggarakan. Pada mulanya warga setempat hanya berniat mengisi acara Tahun Baru dengan menggelar acara bertema "Nyaliksik Lembur Sorangan" dengan menampilkan kebudayaan Sunda. Karena animo masyarakat dan pengunjung yang tinggi, keberadaan Cimol ini terus dipertahankan. Penggagas sekaligus koordinator Cimol, Ceppy Setiawan, mengatakan bahwa tujuan diadakannya Cimol adalah untuk memberdayakan masyarakat setempat, utamanya warga miskin perkotaan dan melestarikan budaya Sunda. Untuk malam Sabtu, pendapatan total yang diperoleh warga adalah 22-23 juta rupiah, berarti kira-kira Rp 300.000 perkepala. Malam berikutnya juga tidak jauh berbeda, "hanya beda 25 % lah" ujar Pak Ceppy. "Dari situ, tingkat kesejahteraan dan pengenalan budaya Sunda warga sekitar meningkat ke arah yang lebih baik", katanya lagi. Dengan demikian selain warga setempat, orang luar dilarang untuk berjualan di Cimol, sebaiknya titip saja apa yang ingin dijual. "Saya juga menolak investor yang minat sama Cimol ini, nanti tujuannya malah 'belok' ".
Anyway, karenanya tidak melulu makanan dan minuman, kesenian Sunda pun digelar, contohnya Longser. Selama hampir lima bulan Cimol berlangsung, Longser baru dipertunjukkan sebanyak dua kali, yaitu tanggal 30 April dan 22 Mei lalu. Longser yang pertama diadakan oleh DISBUDPAR dan BPLHU Propinsi Jawa Barat, dengar-dengar sih dalam rangka memperingati hari Bumi. Sedangkan yang kedua oleh Caraka dan warga Cibadak sendiri. Untuk kedepannya, kesenian-kesenian Sunda yang lain juga akan akan ditampilkan, seperti Rereogan, Angklungan, Wayang Golek, Degung, dan lain-lain. Belakangan budaya Sunda yang disajikan menarik pihak Dinas Budaya dan Pariwisata kota Bandung untuk menjadikan Cimol sebagai tempat tujuan pariwisata di Bandung. Hebat, bukan? Meningkatkan perekonomian warga kota sekaligus menjaga dan melestarikan kebudayaan sendiri. Pak Ceppy yang dulunya merupakan ketua RW setempat mengatakan, "kita akan launching untuk benar-benar meresmikan Cimol ini, dan nanti pada saat launching dan seterusnya semua penjual akan mengenakan pakaian khas Sunda, pasti. Saat ditanya kapan tepatnya launching tersebut, beliau menjawab, "dalam waktu dekat ini. Kita mah tinggal nunggu kapan Pak Walikota ada waktu untuk datang dan ngeresmiin tempat ini, kalaupun Pak dada tidak bisa yah pejabat Bandung lainnya juga tidak apa-apa". Selain itu pria paruh baya yang juga bekerja di PT. Telkom ini ingin menjadikan Cimol sebagai Pasar Malam 24 jam, "daripada keluyuran teu bener, mending kesinh ajah, kita ngobrol, diskusi, nonton kesenian sambil lesehan kayak gini, kan enak. Saya juga pengen bikin layar tancep biar kalo Persib atau pertandingan sepakbola main, kita tonton bareng-bareng" ungkap pria berjanggut itu dengan penuh semangat.
Umumnya, acara-acara publik seperti ini akan menyisakan sampah dimana-mana dan macet yang tiada akhirnya, contohnya saja Dago dan Gasibu. Cimol berbeda, rute Jalan Cibadak yang satu ini memang nampaknya jarang dilalui banyak angkot dan kendaraan pribadi. Selain itu, setiap Jampana dilengkapi dengan tempat sampah dan saat acara usai para penduduk yang berjualan maupun yang hanya nongkrong-nongkrong saja, gotong royong membersihkan ruas jalan dari sampah. Bersih. Unik, 'kan? Warga kelurahan Cibadak memang terkenal dengan keunikannya. Saat pemilu tahun lalu berlangsung, hanya warga Cibadaklah yang satu-satunya di Bandung dan bisa jadi di Indonesia, mencoblos suara dengan mengenakan pakaian tradisional Sunda. Saking kreatifnya 'ulah' warga Cibadak, beberapa RW/RT dari kelurahan lain di Bandung pernah melakukan studi banding, bahkan yang dari Cianjur sekalipun. Berminat studi banding ke Cibadak?
Suasana kampung di tengah kota, mana lagi selain di Bandung. Bukan hanya urusan perut yang terpuaskan. Di Cimol kita bisa melihat kenyataan bahwa ternyata indahnya kebersamaan, kekompakan, keramahan, dan kemauan untuk mengenal budaya sendiri masih dimiliki oleh warga kota yang selama ini pudar. Malam minggu tidak bisa, malam Senin pun jadi. Bagaimana, kemana anda akan pergi malam minggu ini?
foto ada pada gegep...hiks...
    | TATALU | May 27, '07 10:13 PM for everyone |
 | Category: | Music | | Genre: | New Age | | Artist: | ya tatalunya sendiri lah |
ini saya tulis waktu diminta gegep bikin tulisan buat webnya (yg mana tidak jadi, sebel bgt). here goes...
TATALOE, MUSIK SAMPAH DARI BANDUNG
Rabu, 14.00, Sabuga Parkir Utara, Bandung. "Kang, dari Tataloe?". Sambil mengunyah, pria itu mengangguk. "oooh! Sebentar ya", kataku sambil berlalu mengambil note book yang tertinggal di toko buku bacabaca. Toko buku alternatif yang dikelola Andri dan berlokasi di Sabuga ini mempunyai kerja sama dengan Tataloe, utamanya menyediakan fasilitas latihan. Tak lama saya kembali dan memperkenalkan diri, "sambil tanya-tanya boleh ya?". Dame, namanya, lagi-lagi mengangguk. Belum sempat bertanya, dua orang lainnya datang. "Nah, itu tuh Tataloe juga", tunjuk Dame ke arah mereka yang berjalan menuju tempat saya dan Dame duduk. Yang satu bertubuh gempal dan memakai topi, sedangkan temannya jangkung dengan rambut agak gondrong. Keduanya mengenakan pakaian hitam-hitam. Kami saling berkenalan. Mereka adalah Bocil dan Dadi. Tak lama dari itu, Menyusul Tantan, Nengah, Budi, Sani, Arief, dan Dena yang datang paling akhir serta beberapa kru Tataloe. Waktu menanjak pukul 3 sore, suasana makin ramai dengan personel Tataloe dan para pendukungnya, belum lagi ademnya hutan kota Siliwangi yang mengelilingi Sabuga. Sambil diselingi bodoran Sunda yang sering dilontarkan Tataloe, wawancara sore itu rasanya lebih tepat disebut sebagai obrolan sore. Keramahan dan keriangan Tataloe membuat akrab perbincangan sore itu sehingga membuat saya nyaman dan cuaca Bandung pun terasa lebih bersahabat. Sudah tiga bulan ini, setiap Rabu pukul 3 sore, Tataloe latihan rutin di Sabuga. Sebelumnya Universitas Pasundan (UNPAS) adalah tempat mereka biasa berlatih, namun karena semua personel Tataloe sudah begelar sarjana, maka lokasi latihanpun dipindah, selain itu juga mereka khawatir suara tabuhan mereka akan mengganggu suasana belajar di kampus.
Belakangan iklan rokok di TV yang menayangkan sekumpulan anak muda bermain musik dengan peralatan seadanya dengan cara dipukul lumayan membuat penasaran penonton. Bukan produknya, namun orang-orangnya. Musiknya asik, bertalu-talu. Ember dipukul, tabung gas digebuk, drum di tabuh. Bukan hanya itu saja, botol bekas, wajan, dan panci juga difungsikan sebagai alat musik. Kreatif, bukan? "itu awalnya diajakin temen. Kebetulan dia pernah nonton kita maen dan Oomnya kerja di PH yang pengen bikin iklan yang konsep musiknya sama dengan yang dimainkan Tataloe. Akhirnya kita dipake", jelas Bocil yang bernama lengkap Andri Senjaya saat ditanya perihal Iklan tersebut.
Musik sampah. Berawal dari lingkungan suatu kampus jurusan Seni Musik di Bandung, saat itu sekitar 25 orang bergabung untuk bermain musik dengan peralatan sehari-hari, bekas maupun baru, seperti wajan, panci, botol, galon, sendok, dll. "yang namain kita Musik Sampah juga gak tau siapa, tahu-tahu ada aja. Lagian kita ini awalnya modal dengkul" Dadi menjelaskan. waktu itu ada peringatan hari Bumi di Balaikota dan kita manggung pertama disitu. Disana keidean untuk make alat sehari-hari untuk dijadikan alat musik biar cocok sama temanya, jelasnya lagi. Jadi kalo ditanya Tataloe lahir dimana, ya di Balaikota", Dadi bercerita sambil tertawa. Perubahan nama Musik Sampah menjadi Tataloe juga karena alasan, "kita sebenernya khawatir orang-orang kejebak sama kata 'sampah'nya jadi ya kita ganti nama". Resmi berganti nama pada 2002, saat itu masih dengan nama Musik Sampah, Tataloe mengikuti pagelaran Festival Tabuh Raya dan menjadi juara I, masih dengan alat musik 'sampah' juga. Dengan beranggotakan 9 orang, di tahun 2003, Tataloe berduet dengan Andra, basis Dewa, dalam acara Nescafe Musik Asik, mereka memainkan jingle iklan tersebut dan ditonton ribuan orang, live. Pada perayaan Karnaval Jakarta 2004 Juni lalu, Tataloe bersama 440an musisi lainnya, ikut serta dalam Jakarta Circle Rythm of Percussion yang mendapat rekor MURI. Tidak ketinggalan acara besar di rumah sendiri, Bandung Dago Ferstival, yang dua tahun berturut-turut menampilkan Tataloe. Saya teringat seorang teman yang pernah berkata, "waduh itu Tataloe, bisa ngumpulin massa yang segitu banyaknya dalam waktu setengah jam!!". Selain itu Tataloe juga pernah mengadakan workshop bersama anak-anak SD dan akhir-akhir ini mereka disibukkan dengan mengisi acara KDI di TPI bersama Rampak Gendang.
Sebenarnya kenapa sih mesti bermain musik dengan media sehari-hari, bekas pula? Ngajak Kreatif. Itu jawaban Tataloe. Benar juga ya, masih banyak yang bisa kita manfaatkan, bahkan yang kita anggap sampah sekalipun. Bunyi dari panci atau drum bekas yang kita dengar sebagai angin lalu ternyata dapat menjadi ritmik yang bermelodi saat disatukan dengan bunyi lain dari kaleng bekas, ember, sapu lidi, botol, perkakas bangunan, atau alat sehari-hari lainnya yang tidak lazim digunakan sebagai alat musik. Untuk properti, Tataloe memiliki beberapa peralatan yang dibeli, diberi, bahkan dipinjam. Terkadang mereka langsung membeli alat yang tiba-tiba terpikirkan. Seperti saat latihan sore itu, salah seorang dari kru mendadak membeli suatu alat yang biasa digunakan oleh tukang bangunan sebanyak dua buah. Bocil menjelaskan,"kebutuhan karya itu kebutuhan bunyi juga. Tataloe itu spontan. Kita juga sering bikin komposisi langsung ditempat". Disamping itu, Tataloe yang pernah dibayar dengan nasi bungkus ini juga bertujuan membawa tema sosial, seperti jangan membuang sampah sembarangan. Dalam setiap pertunjukkannya, Budi, salah seorang pemain Tataloe sering mengatakan "awas, bahaya laten sampah plastik!". Dalam menciptakan sebuah karya, Tataloe juga sering berimprovisasi ataupun saling bertukar pikiran saat latihan.
Saking spontannya, Tataloe tidak hanya pentas di even-even kesenian atau lainnya, tapi juga bereksperimen dengan tampil apa adanya di ruang-ruang publik seperti Mall dan jalan-jalan umum sekitaran Bandung. Eksperimen ini adalah sebuah bentuk nyata dari tujuan Tataloe sendiri, yaitu menuangkan ide mereka dengan mengkampanyekan peduli Sampah. Bisa dibilang Tataloe menawar, membuka, dan memancing ide kreatif bahwa segala sesuatu itu dapat dijadikan suatu karya seni. Dan seni adalah bahasa komunikasi yang paling universal, salah satunya adalah musik. Begitu juga saat dalam pertunjukkan, Tataloe berusaha untuk selalu komunikatif dengan mengajak penonton ikut bermain di Panggung atau dengan gerakan tubuh seperti tepuk tangan dan olahan gerak kaki.
Sekumpulan anak muda kreatif yang ramah dan ngocol ini terlihat sangat kompak, padahal selain di Tataloe mereka juga punya kesibukan masing-masing. Dadi sibuk mengajar Ekstrakurikuler musik di SD Santa Maria, masih dengan konsep Tataloe, menggunakan alat sehari-hari sebagai media musik, dia juga menggebuk drum di bandnya Damn ..... Arief merupakan drummer Cherry Bombshel, .adalah pemain drum Kulkas, Tantan di Ragaji Mesin, belum lagi yang lainnya. Kebanyakan memang main disekitaran perkusi, kecuali Bocil yang merupakan Vokalis. Kendati demikian, karena berangkat dari jurusan Seni Musik, tidak melulu perkusi, alat musik lainnya pun mereka kuasai: gitar, flute, biola, harpa, bass, dan lain-lain.
Tataloe tidak hanya sendiri, saat ini jenis musik seperti Tataloe sudah banyak berseliweran, baik di Bandung maupun di kota-kota lainnya, apalagi di luar negeri. Saat ditanya apakah Tataloe berani mengklaim diri sebagai grup perkusi dengan media sehari-hari pertama di Bandung (Indonesia), Dadi menjawab "ah, kita mah bukan siapa-siapa, gak bisa ngomong gitu. Masih banyak Tataloe-Tataloe di luar sana yang mungkin memang belum kesorot aja". "Bagaimana dengan plagiat?", Tanya saya lagi. Dadi memasang muka serius, "di dunia ini mana ada yang orisinil. Yang penting saya, kami disini mengerjakan sesuatu, mengembangkan sesuatu buat Bandung buat Indonesia. Kita bikin karya dan kemasan yang beda walaupun dengan konsep dasar sama. Yang penting kita berkarya. Seniman tidak berkarya mau hidup darimana?"
Tataloe, bersama mereka tidak hanya telinga yang mendengar tapi juga mata yang melihat dan hati yang merasakan. Seluruh organ tubuh ikut bertalu-talu mengikuti alunan komposisi mereka yang enerjik dan penuh semangat. Tidak selalu ide musiknya, namun juga spirit anak muda Bandung ini tersampaikan lewat alat musik yang mereka mainkan.
Selesai wawancara, saya asik melihat mereka berlatih, latihan yang tidak serius tapi hasil akhirnya benar-benar matang. Ketika latihan usai dan saya pun hendak bergegas pulang, mereka menawarkan sesuatu pada saya yang rasanya haram ditolak, sepotong pizza ukuran besar!MMmm... yummy!!.
-ulu-

| |